Al Husnayain

Profil Pendiri

Drs. Bali Pranowo, MBA.
Pendiri Yayasan Husnayain


balip1

Ia dikenal sebagai "Da'i Ceria" karena ceramah-ceramahnya yang kerap diselingi humor segar. Ustadz kelahiran Cirebon itu kini merasa panggilan dakwah telah menjadi bagian hidupnya. Sebelumnya, ia pernah menjalani profesi sebagai guru di Jakarta.

Tamat SMEA tahun 1979, Bali Pranowo melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi IKIP Jakarta. Yang menarik, ketika menjadi aktifis mahasiswa tahun 1980, ia mengikuti Lomba Lawak dan menang sebagai juara pertama. Setelah menjadi da'i, kepiawaiannya melawak ia tinggalkan dan disesuaikan dengan misi da'wah.

Putra pasangan H, Upanggi Suwandi (alm) dan Hj. Emi Sulasmi ini mengaku mulai intensif mengkaji Islam sekitar tahun 1983. Ia mengenal sosok Ustadz Hilmi Aminudin yang diakuinya sebagai orang yang pertama menggugah keimanannya atas izin Allah. Dari sinilah Bali mulai mampu merubah prilaku yang urakan menjadi seorang muslim yang mukhlis. Ustadz Hilmi yang kini menjabat Ketua Majelis Syuro PKS selalu ia kenang sebagai guru spiritualnya.

Tahun 1984 ia mulai aktif berda'wah, dan setahun kemudian ia mengikuti daurah (pelatihan) dan kajian Al-Qur'an yang dibimbing Syeikh Abdullah Basyqor, seorang imam besar di Jeddah. Setelah lulus ia langsung ditarik menjadi salah satu da'i International Islamic Relief Organization (IIRO) sebuah lembaga bantuan Islam yang bernaung di bawah Rabithah Alam Islamy (Liga Dunia Islam) berpusat di Jeddah. Tahun 1990 ia bekerja sebagai Muhassib (akuntan) di organisasi itu. 

Bali Pranowo mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting mojang Garut yang sama-sama aktifis kampus bernama Ai Rosmini. Kini mereka telah dikaruniai tiga putri dan dua putra. Putra sulungnya, Mohammad Fiqri Aziz, kini menjabat Ketua KAMMI Jakarta. 

Ketika ditanya soal keunikan namanya, Kenapa “Bali”? Anak kedua dari enam bersaudara itu menjelaskan bahwa ayahnya memang sengaja menyisipkan nama anak-anaknya dengan nama pulau. Antara lain: Yudo Irian-to, Bali Pranowo, Neneng Maluku-wati, Sulawesri, Aru-man, dan Yanti Nias-ih, kerena ternyata Ayahnya adalah seorang guru geografi. 

Pandangannya tentang Seorang Da'i 

Menurut Bali Pranowo, seorang da'i harus memiliki sikap yang diunggulkan. Salah satunya adalah sikap dan keyakinannya tentang Rizkum-minallah (rezeki hanya datang dari Allah). Di dalam Surat Al-Isra ayat 30, Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah akan melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya." Maksudnya agar setiap da’i menyadari bahwa keberhasilan da'wah tidak diukur dengan materi. “Kalau seorang da'i yakin betul dengan firman Allah tersebut, Insya Allah da'wahnya akan lebih Lillah,” tutur ustadz yang sudah berda'wah ke berbagai wilayah di Indonesia ini. 

Ustadz yang juga tidak asing bagi kalangan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyayangkan adanya anggapan bahwa seorang da'i bila terjun ke kancah politik, maka ia akan berubah sehingga pamornya turun. "Anggapan ini disebabkan paradigma politik yang keliru,” ujar Ketua Majelis Pertimbangan Daerah PKS Kota Bekasi itu. 

Di dunia politik, kata Ustadz Bali, memang terdapat adagium yang sangat populer, “Tidak ada kawan yang sejati dan tidak lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan”. Baginya, itu kurang tepat, dan itulah yang membuat seseorang yang terjun ke kancah politik dengan menghalalkan segala cara demi sebuah kepentingan. 

Pandangan tersebut, lanjutnya, harus dirubah dengan paradigma shahih yang diambil dari falsafah politik Islam, “Semua merupakan kawan abadi selama masih bekerja sama untuk kemaslahatan umat.” Perubahan ini harus ditunjukkan oleh pribadi pemimpin itu sendiri dengan tampil sebagai seorang politikus yang Islami dan itu sudah ada contohnya dari Rasulullah SAW. 

Resep mendidik Anak 

Dalam hal manajemen pendidikan, ia lebih menekankan kepada kualitas guru, karena hal ini punya kaitan erat dengan kualitas pendidikan. Untuk itu, evaluasi peningkatan belajar siswa terus diefektifkan, pelatihan-pelatihan peningkatan mutu kurikulum juga, tak boleh dilewatkan. “Karena itu kami selalu merujuk pada koordinasi program Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), sebagai standar pengawasan mutu,” ujarnya.

Lebih lanjut Ustadz Bali menjelaskan "pendidikan itu harus dilandasi dengan pembentukan disiplin, ada empat resep dalam menegakkan disiplin" :

Pertama, al-A’dah (pembiasaan) dalam menanamkan akhlakul karimah pada anak.

Kedua, al-Qudwah (contoh teladan) yang mesti ditonjolkan orang tua dan guru.

Ketiga, Al-Ajru (memberikan penghargaan) untuk setiap prestasi dalam pembelajaran.

Keempat, al-Iqob (hukuman) untuk setiap kesalahan yang dilakukan anak.

Bentuk hukuman ini disesuaikan dengan kemampuan anak. Menurutnya, setiap anak harus selalu dibiasakan menerapkan gaya hidup Islami, atau mengikuti syariat Islam. Ia sangat setuju dengan ungkapan "Tegakkan Islam itu dalam hatimu, maka kamu akan menegakkan Islam." Artinya apabila setiap individu sudah ditarbiyah hatinya untuk tunduk pada aturan Allah, maka dengansendirinya syariat Islam itu akan tegak.*** 

Kalender

« November 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      

Pemotongan Hewan Qurban 1437 H

Kemeriahan Hari Pertama Sekolah

Upacara Bendera HUT RI ke-71